Kaya Bahasa
Papua Nugini terdiri dari banyak suku. Banyak di antara mereka tinggal di negeri terpencil. Tiap-tiap suku memiliki bahasa sendiri
Konon, bahasa yang digunakan di Papua Nugini jumlanya kira-kira 850 bahasa. Hampir tiap-tiap daerah punya bahasa sendiri. Bahkan, ada satu daerah yang memiliki beberapa bahasa. Tentu, tidak semua orang bisa memahami bahasa sebanyak itu. Sebagai sarana komunikasi, orang-orang PApua Nugini menggunakan bahasa Tok Pisin, Hiri Motu, bahasa Inggris, dan bahasa Portugis.
Kaya Budaya
Selain kaya bahasa, Papua Nugini juga kaya budaya. Setiap suku memiliki adat istiadat dan kebudayaan sendiri. Adat istiadat dan kebudayaan mereka tetap lestari hingga sekarang.
Berbagai pertunjukkan kebudayaan sering digelar di tiap daerah. Ada tarian, nyanyian, dan berbagai upacara adat.
Salah satu pertunjukkan yang sering digelar adalah Baining Fire Dabcers. Tari-tarian ini digelar dalam sebuah upacara untuk menyambut kelahiran anak, merayaan ank laki-laki yang mulai dewasa, dan saat panen.
Ada juga tarian Asaro Mud Men. Di sini, semua laki-laki yang ikut menari, dilumuri lumpur. Konon, tarian ini berasal dari legenda tentang suatu suku yang dikejar musuh. Orang-orang yang dikejar kemudian menceburkan diri ke sungai Asaro. Saat muncul dari sungai, tubuhnya sudah penuh lumpur. Melihat itu, musuh-musuh lari ketakutan karena mengira hantu. Kini, acara ini juga dijadikan acara untuk mengusir roh-roh jahat.
Sumber: Bobo
Papua Nugini terdiri dari banyak suku. Banyak di antara mereka tinggal di negeri terpencil. Tiap-tiap suku memiliki bahasa sendiri
Konon, bahasa yang digunakan di Papua Nugini jumlanya kira-kira 850 bahasa. Hampir tiap-tiap daerah punya bahasa sendiri. Bahkan, ada satu daerah yang memiliki beberapa bahasa. Tentu, tidak semua orang bisa memahami bahasa sebanyak itu. Sebagai sarana komunikasi, orang-orang PApua Nugini menggunakan bahasa Tok Pisin, Hiri Motu, bahasa Inggris, dan bahasa Portugis.
Kaya BudayaSelain kaya bahasa, Papua Nugini juga kaya budaya. Setiap suku memiliki adat istiadat dan kebudayaan sendiri. Adat istiadat dan kebudayaan mereka tetap lestari hingga sekarang.
Berbagai pertunjukkan kebudayaan sering digelar di tiap daerah. Ada tarian, nyanyian, dan berbagai upacara adat.
Salah satu pertunjukkan yang sering digelar adalah Baining Fire Dabcers. Tari-tarian ini digelar dalam sebuah upacara untuk menyambut kelahiran anak, merayaan ank laki-laki yang mulai dewasa, dan saat panen.
Ada juga tarian Asaro Mud Men. Di sini, semua laki-laki yang ikut menari, dilumuri lumpur. Konon, tarian ini berasal dari legenda tentang suatu suku yang dikejar musuh. Orang-orang yang dikejar kemudian menceburkan diri ke sungai Asaro. Saat muncul dari sungai, tubuhnya sudah penuh lumpur. Melihat itu, musuh-musuh lari ketakutan karena mengira hantu. Kini, acara ini juga dijadikan acara untuk mengusir roh-roh jahat.
Sumber: Bobo
















